Science and Tech

METI Melakukan Kajian Zona Evakuasi Fukushima

Pemerintah Jepang memulai suatu studi secara terperinci terkait dengan kajian ulang upaya-upaya evakuasi pada prefektur Fukushima.
Pada tanggal 3 Agustus Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI, Ministry of Economy, Trade and Industry) merangkum keseluruhan level keselamatan PLTN Fukushima Daiichi. Hal ini kemudian digunakan dalam melakukan analisis yang konservatif terhadap efek potensial pada penduduk yang tinggal dalam radius 20 kilometer dari instalasi setelah beberapa skenario hilangnya pendingin.

Menurut METI, Efek terhitung yang sangat kecilpun harus dievaluasi kemungkinannnya secara lebih detail dengan menggunakan data terkini serta mempertimbangkan hasilnya terkait dengan revisi upaya evakuasi.

Saat ini tidak idiizinkan penduduk tinggal pada jarak 20 kilometer dari komplek PLTN Fukushima Daiichi, sementara itu penduduk yang tinggal pada zona antara 20 dan 30 kilometer telah diberitahu untuk bersiap-siap mengungsi. Selain itu, beberapa daerah lain seperti desa Itate telah dievakuasi karena laju dosis radiasi melebih 20 millisieverts per tahun. Perpanjangan masa pengungsian yang dilakukan terhadap kurang lebih 100.000 orang telah meminimalisasi dampak negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan akibat kecelakaan nuklir.

Dalam status instalasi run-down, METI mencatat bahwa pendingin yang dilakukan pada teras reactor yang meleleh 'relatif stabil', ketika dilakukan back-up untuk pompa, pipa, listrik, dan pasokan air. Selain itu, risiko ledakan hidrogen sangat rendah akibat dilakukannya injeksi nitrogen ke teras reaktor. Analisis bangunan sipil yang rusak, menyatakan bahwa kondisi bangunan/gedung tidak berbahaya jika ada skenario gempa bumi atau tsunami yang akan terjadi.

Pada saat yang sama, paparan radiasi dari instalasi tidak terdeteksi lagi. Sampling udara terakhir yang dilakukan di perbatasan tapak PLTN, terdeteksi yodium-131, caesium-134 atau cesium-137 dan menurut catatan METI, laju dosis maksimum yang baru dirilis adalah 1,7 millisieverts per tahun pada perbatasan tapak. paparan radiasi ini akan berkurang seiring dengan semakin jauh jarak dari tapak PLTN Fukushima.

 

Berdasarkan hal tersebut, METI telah mempertimbangkan dua macam skenario untuk kehilangan pendinginan dan menganalisis efek tersebut yang dapat berdampak pada masyarakat yang tinggal pada radius 20 kilometer dari komplek PLTN Fukusima Daiichi. Dengan mengasusmsikan kondisi teras reactor Fukushima Daiichi yang tidak diketahui, scenario pertama mengasumsikan kondisi teras reactor hampir meleleh, sementara itu skenario kedua mengasumsikan secara 'substansial' sejumlah jumlah bahan bakar meleleh dan masih berada penyangga teras reactor unit 3.


METI mempertimbangkan efek dari kecelakaan kehilangan pendingin terhadap tapak berlangsung selama lima, sepuluh dan 15 jam.
Untuk scenario pertama, METI memperoleh hasil kajian bahwa laju dosis internal dan eksternal tambahan yang diterima masyarakat yang tinggal dalam radius 20 kilometer sebesar 0,17 millisieverts - kurang 10 millisievert (nilai maksimum yang diizinkan untuk darurat nuklir).

Sebagai perbandingan, dosis radiasi rata-rata global per tahun dari semua sumber adalah sebesar 2,4 millisieverts per tahun.

Resiko yang Paling besar ketika terjadi kecelakaan nuklir adalah pada usia anak-anak hal ini disebabkan karena masa pertumbuhan kelenjar tiroid yang sangat cepat sehingga akan menyerap dan terkonsentrasi yodium-131. Berdasarkan kajian yang dilakukan METI dengan scenario pertama maka dosis total kelenjar tiroid pada bayi di bawah 0,038 millisieverts, METI menyatakan hal ini sangat kecil.

Untuk scenario kedua, di mana lebih banyak bahan bakar diasumsikan meleleh pada teras reactor unit 3, kondisinya lebih serius, tetapi masih dianggap kecil oleh METI. Jumlah dosis radiasu internal dan eksternal untuk masyarakat yang tinggal dalam radius 20 kilometer paparan yang diterima tidak lebih dari 2,3 millisieverts, sedangkan untuk thyroids anak-anak kurang dari 1,0 millisieverts.

Dalam skenario insiden tersebut, METI mengatakan bahwa orang dewasa yang tinggal dalam radius 20 kilometer menerima paparan 17 millisieverts selama setahun, namun perlu diingat bahwa harus dilakukan upaya penanggulangan dalam kurun waktu tersebut.

METI tetap melakukan analisis lebih detail berdasarkan data terbaru terkait dengan kondisi instalasi. Hal ini akan mempertimbangkan berbagai peristiwa yang mungkin dengan derajat yang dapat berdampak pada masyarakat yang tinggal pada daerah masuk dalam upaya evakuasi.

Selain dari risiko kecelakaan yang lebih jauh pada instalasi dan efek yang mungkin dihasilkan, pertanyaan terpisah untuk METI apakah laju dosis /paparan radiasi yang diterima anggota masyarakat dari bahan radioaktif yang sudah ada di tanah dapat diterima atau tidak. Namun, sekretaris kepala kabinet Yukiyo Edano sebelumnya mengatakan bahwa perintah evakuasi diutamakan di TKP karena kemungkinan terjadi kerusakan tiba-tiba pada instalasi. (Akhmad Khusyairi)

Source : WNN

Who's Online

We have 45 guests and no members online

Visitor counter